DPRD Atambua Dikepung 5 Ribuan Warga

Kompas.com - 01/04/2008, 13:30 WIB

Laporan Wartawan Pos Kupang, Ferdy Hayong
 
ATAMBUA, SELASA --
Lima ribuan lebih eks warga Timtim yang berada di 17 kecamatan di Kabupaten Belu, Selasa (1/4) kembali melakukan aksi demonstrasi ke Gedung DPRD Belu. Mereka berorasi di gedung dewan sekitar pukul 09.00 Wita selama dua jam, dan melakukan negosisasi dengan Wakil Bupati (Wabup) Belu, drg. Gregorius Mau Bili.

Saat itu, Wabup Belu, Greg Mau Bili, menyampaikan bahwa tuntutan warga eks Timtim sudah disampaikan Pemkab Belu melalui Bupati Belu, Joachim Lopez ke Presiden SBY. Surat warga disampaikan melalui Sekretariat Negara (Setnet) di Jakarta.

Namun karena aturan protokoler sehingga butuh waktu untuk bisa mendapat jawaban dari pemerintah pusat. Namun jawaban yang disampaikan Wabup Belu tidak digubris dan warga eks Timtim. Mereka minta agar saat itu juga pemerintah harus memberikan jawaban terkait tuntutan yang mereka ajukan.

Namun karena jawaban yang diperoleh kurang memuaskan, warga eks Timtim lalu bergerak dari gedung dewan setempat menuju Dinas Sosial Belu yang berjarak sekitar 2 km .

Di kantor ini, mereka melakukan orasi dan berteriak menuntut hak mereka. Bahkan sebagian warga sempat melempar Kantor Dinsos Belum dan sebagian melakukan pembakaran ban. Aksi ini mendapat pengawalan aparat Polres Belu.

Sampai dengan berita ini diturunkan, warga eks Timtim masih melakukan aksi massa di gedung Dinsos Belu. (*)
 
 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau